Minggu, 23 April 2017

      






 





               Saya tidak akan pernah lupa akan sosok seorang pejuang yang dijunjung tinggi jasanya bagi negeri ini. Ambisinya untuk mendapatkan kesempatan belajar yang setara dengan kawan-kawan lelakinya tentunya adalah sebuah inspirasi bagi kita semua. Kartini adalah alasan mengapa saya, seorang putri Indonesia, bisa mencapai pendidikan setinggi mungkin. Dalam lagu Ibu Kartini, ia disebut sebagai “putri sejati”, namun saya menolak untuk memanggil dirinya demikian. Saya lebih memilih untuk menyebutnya sebagai “pejuang kesetaraan gender sejati”. Istilah yang panjang, tapi menurut saya     sangatlah pantas.Kenangan saya tentang Hari Kartini adalah waktu TK sampai SD saya berangkat ke sekolah mengenakan kebaya. Namun setelah saya lebih mengenal sosok Kartini sebagai pejuang hak perempuan dan saat saya lebih mengerti tentang isu-isu kesetaraan gender, sejujurnya saya semakin bingung kenapa pula setiap Hari Kartini dirayakan dengan mengenakan kebaya.Kemudian, saya pun mempelajari mengapa Hari Kartini identik dengan memakai kebaya ke sekolah. Rupanya, pada era Orde Baru, sosok Ibu Kartini dilukiskan sebagai seorang “putri sejati”, bukan sebagai seorang pejuang. Dalam opini yang ditulis oleh bahwa pergeseran sosok Kartini dari seorang pejuang emansipasi perempuan ke seorang putri sejati adalah salah satu alasan utama sebagian besar publik melupakan apa yang seharusnya dirayakan saat hari Kartini. Yakni, bahwa Ibu Kartini adalah seseorang yang mengambil langkah pertama untuk memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan, walaupun pada akhirnya Kartini pun terpaksa memotong singkat pendidikannya untuk menikah. Akan tetapi sosok “putri sejati” inilah yang dilukiskan pada era Orde Baru sosok seorang wanita yang lebih mementingkan “kodrat”nya, untuk tetap berkutat di ranah domestik  dan sosok inilah yang terus melekat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar